Seorang laki-laki dengan potongan tubuh atletis, rambut pendek, sudah dua hari ini rajin datang ke toko kami. Awal kedatangan pertama masih bersifat tanya tentang aquarium laut dan segala aksesoriesnya. Cukup lama berinteraksi dengan kami sambil mengobrol perihal penanganan dan perawatan ikan laut. Dari pembicaraan dan logatnya kami bisa memperkirakan bahwa bapak ini berasal dari Indonesia Timur. Pengetahuan tentang ikan cukup baik bahkan lebih banyak menyarankan kami. Lokasi dan daerah tempat ikan berasal juga lebih banyak benarnya. “Sudah 12 tahun saya bertugas keliling Indonesia. Hampir sebagian besar tempat eksotis, terutama perairan laut wilayah Indonesia Timur pernah saya singgahi”, katanya. “Keindahan dan keaneragaman hewan laut di Bunaken, Menado sampai Kepulauan Raja Ampat di Papua sungguh hebat” tambahnya. Saya lebih banyak mendengarkan dan sesekali memberikan komentar dan pujian. Berbagai jenis ikan sepertinya hafal betul. Pengalaman pengalaman selama melakukan diving di tempat tempat tertentu dengan lancar diceritakannya. Saya harus lebih berhati hati. Jangan jangan apa yang saya katakan kepada beliau nanti salah. Dengan semangatnya diceritakannya pada saat menjumpai ikan ikan laut besar dan kecil. Bagaimana cara menghindari mahkluk nan cantik tetapi berbahaya. “Kita harus hati hati jika bertemu ikan pari, di pangkal ekor terdapat semacam duri atau taji yang sangat beracun”, tambah beliau sambil melihat dan menunjuk pada seekor ikan pari kecil yang sedang lewat di depan aquarium. Kebetulan di aquarium juga melenggang seekor ikan scorpion dengan gemulainya memamerkan slayer rumbai rumbainya. Dengan semangat dan bangga diceritakannya bahwa beliau pernah berhasil menangkap ikan Scorpion yang katanya tiga kali lebih besar daripada yang ada di aquarium. “Ada trik dan cara tertentu untuk menangkap ikan scorpion ini” katanya. Kebetulan hari itu pembeli agak sepi sehingga saya bisa melayani bapak tersebut untuk mengobrol. Lebih baik kehilangan waktu sedikit tetapi bisa meng-create calon pelanggan menjadi pelanggan potensial, pikir saya. Tanpa buang waktu lagi akhirnya saya meminta bapak tersebut untuk mempraktekkan bagaimana caranya menangkap ikan scorpion. Anggap saja saya sedang berguru untuk menaklukkan ikan scorpion. Terus terang saja, saya selalu kesulitan dalam memindahkan ikan tersebut. Walaupun lemah gemulai tetapi pada saat ditangkap, dengan gesitnya selalu menghindar. Entah karena malu atau benar benar ingin membuktikan kepandaian menangkap ikan scorpion seperti yang diceritakan kepada saya, akhirnya dia minta ijin untuk mempraktekkan.
Dimintanya sebuah serok dan dipilih yang agak panjang kain saringannya agar ikan tidak mudah loncat setelah masuk serok, seraya berkata, “Kita harus sabar agar ikan tidak terkejut, pelan tapi pasti masukkan serok ke dalam aquarium. Tunggu hingga ikan benar benar tenang”. Dengan seksama saya memperhatikan apa yang dipraktekkan oleh beliau. Digiringnya ikan sampai ke sudut aquarium dengan satu tangan memegang serok dan tangan lainnya membantu mempersempit ruang gerak ikan. Sejenak kemudian ikan tersudut dan masuk ke dalam serok. “Berhasil !!”, teriaknya sambil mengangkat serok ke atas. Namun suatu hal tidak terduga terjadi. Sebelum serok benar benar ke angkat, ikan Scorpion melompat, berontak dan sedikit darah keluar dari tangan bapak tersebut. Akhirnya gagal penangkapan ikan scorpion. Saya alihkan perhatian ke aquarium laut model terbaru sambil saya sodorkan teh botol dingin. Singkat cerita bapak tersebut tertarik dan berniat untuk membawa pulang satu paket aquarium laut beserta aksesorisnya. Kami belum membicarakan masalah harga aquarium tetapi bapak tersebut bergegas dan ingin segera pulang, diberikan saya sebuah kartu nama dan berpesan “Besok lusa saya akan ke sini lagi untuk memilih aquarium yang cocok dengan design ruangan kerja saya”. Saya antar sampai di teras toko dan tidak lepas dari perhatian saya, sebuah mobil Honda CRV warna putih berpelat DD meninggalkan tempat parkir. Alhamdulillah hari ini telah terjadi komitmen pembelian walaupun belum terjadi deal. Layanilah pelanggan dengan sepenuh hati suatu saat pasti akan kembali merupakan motto kami. Hanya tangan tuhan yang akan membimbing mereka untuk kembali. Amiin. (bersambung . . . . . . )
Matahari sudah meninggalkan sinar kelembutan di pagi itu, terasa kehangatan mulai menyelinap di antara celah dinding dan tenda tenda toko. Hiruk pikuk
para penjual dan pedagang memecah keheningan. Para penjual makanan, penjual air dan buruh angkut mengawali aktivitasnya. Maha suci Allah yang telah memberikan rezeki kepada umatnya dengan berbagai macam cara. Mereka adalah orang orang kecil yang mengais rezeki, tidak terpengaruh gonjang ganjingnya berita politik, korupsi dan rumor para wakilnya yang ada di Dewan Terhormat. Hanya satu kekhawatiran yang mereka pikirkan jika pemerintah jadi menaikkan BBM.
Belum ada satu orang pembelipun datang ke toko kami. Hari itu Selasa, lepas dua hari setelah masa ramai, hari Sabtu dan Minggu. Dibantu pelayan, kami membersihkan dan menata dagangan serapi mungkin. Pak Sastro, pedagang air yang setia menyuplai air bersih buat ikan ikan, duduk diam di teras toko kami. “Nunut ngeyop Mas”, ujar beliau sambil menata jerigen. “Alhamdulillah, hampir selesai tugas saya hari ini. Tinggal dua lapak lagi”. Saya belum bicara, dia berkata lagi,”Nunut Leren sebentar”. Teringat saya akan lagunya Didi Kempot, Nunut Ngiyop, syairnya begitu pas dengan kondisi masyarakat kita sehari hari. Sebatang rokok dengan tag iklan, Wani Piro ? menemani Pak Sastro melepaskan kepenatan fisiknya.
Pak Sastro, 59 tahun adalah figur pekerja keras dengan ikhlas menjalani profesinya tanpa terbebani kebutuhan duniawi yang bersifat hedonis. Prisnsip hidup sumeleh, menyerahkan semua hidup dan matinya kepada yang Maha Pengatur, mengalahkan semua nafsu duniawi. Seharusnya di usia 55 tahun sudah pensiun, jika ia pegawai negeri. Pak Sastro sangat mensyukuri atas karuniaNya. Banyak pejabat belum mencapai pensiun hanya bisa memandang kekayaan yang diperoleh tanpa bisa menikmati hasil karena berteman dengan strok, diabetes, stress dan bayang bayang perbuatan masa muda. Sementara yang sudah pensiun, penjara siap menanti karena tersangkut kasus hukum. Hidup adalah wang sinawang.
Sebuah mobil BMW warna merah membelah kamacetan area perpakiran komplek penjualan ikan hias Semarang. Tukang parkir sibuk mengatur kepadatan lalu lintas sambil sesekali meniup alat pengumpul uang. Lampu sein berkedip mengisyaratkan mobil tersebut mencari tempat parkir.
Tidak ada keme
wahan yang mencolok, namun terkesan mobil itu sangat terawat dan bagus. Mobil tahun 2000-an, mobil idaman pada jamannya, BMW type 318i , velg standard, bersih mengkilat sepadan dengan penumpangnya, orang sukses di eranya.
Seorang laki-laki paruh umur keluar dari pintu depan diikuti anak kecil dengan wajah sumringah, berbalik menuju laki laki paruh umur tersebut seraya menarik tangan, menunjukkan ketidaksabarannya.
Seolah olah sudah mengetahui lokasi yang akan dituju, anak kecil menuntun laki laki itu melewati rintangan kerumunan orang orang yang sedang berdiri dan bertransaksi di lokasi pusat penjualan ikan hias semarang. Tanpa menghiraukan apapun yang terjadi didepannya mereka langsung berhenti di depan toko, hari itu masih banyak orang membeli kebutuhan hobinya. Orang tua itu mendampingi tingkah laku anak kecil yang selalu bicara mengguruinya. Ia mengarahkan telunjuknya ke arah jenis ikan yang sedang bermain dalam aquarium, “Itu Nemo, warnanya merah ada belangnya, Kek ! Itu namanya Angel biru” ujar anak itu. Saya menjadi sadar, tiga minggu yang lalu anak kecil itu juga berdiri dan jongkok asyik di lokasi yang sama. Keasyikannya terusik dan berakhir dengan ditariknya lengan anak kecil oleh seorang wanita, mungkin ibunya.
Keterpautan usia dan dari pembicaraan yang saya dengar, keduanya menunjukkan mereka seperti kakek dan cucu. Semangat anak itu untuk menunjukkan jenis jenis ikan kepada kakeknya hampir saja terjatuh. Tanpa disadari di depannya ada barang pembeli lain tertabrak. “Hati-hati Rico, entar jatuh” ujar kakeknya sambil mendekat ke arah saya. “Maaf pak, dia cucu saya”, beliau memperkenalkan diri. “Silahkan melihat lihat barangkali tertarik“ balas saya. Hari ini kelihatan agak ramai dari biasanya. Saya berpikir sebentar lagi pasti akan ada transaki yang lebih besar.
Tadi pagi ada seorang pengemis datang. Pengemis ini seperti pendatang baru, belum pernah terlihat sebelumnya sebagaimana pengemis lainnya selalu rutin menyambangi toko toko di sekitar kami. Sangat pamali (ora elok/ tabu) bagi pedagang baru buka, belum ada pembeli tapi didatangi pengemis. Mereka cenderung untuk menolak memberi recehan sebelum ada pembeli. Sayapun sepaham dengan aturan itu walaupun hanya ikut ikutan namun pagi itu kebetulan ada uang receh Rp.1.000,- yang tergeletak di bawah kalkulator. Tanpa pikir lagi, uang langsung saya ambil, kuberikan pengemis. Dengan wajah berbinar, pengemis menerima pemberian uang, diakhiri dengan berdoa yang tidak saya ngerti maksudnya namun tetap saya amini. Apakah faktor ini saya tidak tahu, yang jelas hari ini pembeli luar biasa banyak. Tanpa terasa tiga puluh menit lepas dari adzan saya belum shalat dhuhur. Astagfirullahalazhim, maafkan ya Allah hambamu yang lalai karena kesibukan urusan perniagaan ini.
Sejenak saya terbangun dari lamunan sesaat oleh pertanyaan Kakek Rico,”Ukuran berapa aquarium ini ? bila harga cocok pindahkan saja ke rumah saya”. Belum pernah saya menemui calon pembeli seperti ini. Benar benar luar biasa. “Maaf Pak, ini untuk pajangan. Bapak bisa lihat di bengkel kami. Tersedia berbagai macam ukuran dan model sesuai dengan permintaan, bisa disesuaikan dengan ruangan”. Tanpa ada reaksi sedikitpun atas penjelasan saya, sang kakek langsung menuju ke Rico, “Ikan apa yang Rico senangi ?”, ujarnya. “Rico ingin ikan Nemo dan temen temannya seperti di TV”. Sejak penayangan film Nemo di TV memang membuat anak anak menyenangi jenis ikan Nemo yang lucu, gesit dan menggemaskan. Kalangan orang tua menjadi repot dengan permintaan anak anak. Ikan Nemo adalah jenis aquarium laut sedangkan aquarium di rumah kebanyakan aquarium air tawar. Saya hampiri kakek Rico dan saya jelaskan, bahwa aquarium ini khusus untuk air laut sehingga perlu penanganan dan perawatan khusus. “Jangan khawatir jika Bapak membeli aquarium dari saya. Kami berikan garansi, kunjungan dan perawatan gratis serta penggantian dan garansi ikan yang mati dalam waktu satu bulan. Maaf, kita sudah bicara tapi belum kenal. Saya Pipit dan nama bapak siapa ?”. Sambil mengulurkan tangan, berjabat tangan, bapak tersebut berkata :”Saya Johan dan itu Rico, cucu saya”.
Demi memberikan layanan yang memuaskan kami memang memberikan perawatan, garansi ikan mati selama satu bulan. Setelah perkenalan itu kami semakin akrab berbicara. Pak Johan menceritakan bahwa Rico adalah satu satunya cucu laki laki duduk di salah satu TK ternama, tiga cucu lainnya perempuan, tinggal di Jakarta dan Singapura. Satu minggu Rico sakit, sempat dirawat di rumah sakit selama empat hari namun tidak diketemukan jenis penyakitnya. “Saya ditelepon Theresia, anak saya. Sambil menangis dia mengharapkan saya segera pulang. Waktu itu saya ada di Singapura. Di saat demam tinggi kata anak saya, Rico menyebut nama saya dan ikan nemo. Dari bandara saya langsung ke rumah sakit untuk menemui cucu saya”, katanya. Saya menjadi paham bahwa benar dugaan saya, Rico adalah Anak Kecil dan Ikan Nemo seperti tulisan saya sebelumnya. “Saya berjanji jika Rico sudah sembuh benar dan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhannya, saya ingin membeli aquarium ini beserta satu set kelengkapannya. Pak Pipit jangan memberikan harga yang mahal”, pintanya. Sebagai penjual, biasanya ini adalah moment yang sangat bagus untuk memberikan harga tinggi. Kami tetap memberikan harga penawaran yang wajar sesuai yang berlaku dalam jual beli normal. Kami berprinsip bahwa hubungan kami dengan pelanggan selalu berkesinambungan dan berlanjut terus. Penjual dan pelanggan sama sama untung. Akhirnya Pak Johan dan saya berhasil menegosiasi kesepakatan harga. Transaksi ditutup dengan nilai Rp. 17.150.000,- satu paket aquarium, lighting, chiller, skimer , filter, setting dan penghuni aquarium ikan nemo dan teman temannya dalam waktu dua hari harus sudah ada di rumah Rico.
Terimakasih ya Allah, terimakasih Pak Johan dan terimakasih Rico. Saya segera bergegas mengambil air wudlu untuk sholat dhuhur yang hampir terlambat.
Pagi itu, Hari Sabtu cuaca cerah. Sengaja kami membuka toko lebih awal dari hari biasanya. Maklum tanggal muda. Biasanya pengunjung sangat banyak. Semarang, dengan Pusat penjualan ikan hias di Jl. Kenari, mempunyai daya tarik tersendiri. Mampu menyedot orang orang, baik hanya sekedar melihat, jalan jalan maupun membeli ikan atau peralatan hobi lain. Tersedia berbagai model dan macam Aquarium, ikan dan binatang lainnya. Anda bisa membeli mulai dari anak buaya, kura-kura sampai ikan hiu.
Untuk menarik pengunjung, aquarium laut kami isi berbagai macam ikan kecil dengan warna warni yang cerah, mengundang mata melihat. Kami tambahkan sinar lampu menjadikan warna ikan semakin menyala. Gugusan terumbu karang dan Anemon laut melambai lambai oleh hembusan air . Tarian dari beberapa ikan Nemo berebut tempat menyelinap di sela anemon laut membuat orang semakin terpikat untuk berhenti di depan aquarium. Tiba tiba Angel Fish besar melenggang memamerkan warna ungu yang tajam, lengkaplah keindahan yang disajikan oleh sebuah kotak kaca. Seorang anak kecil dengan khidmatnya berdiri di sudut kerumunan orang, sesekali jongkok mengusir kepenatan. Sudah lebih dari seperempat jam tidak juga meninggalkan tempat. Dari sorot matanya jelas dia sedang menikmati kelucuan ikan Nemo. Garis garis warna merah tegas, sesekali menghilang dan muncul tiba tiba membuat anak tersebut semakin penasaran. Kami lebih penasaran atas keberadaan anak itu. Tanpa didampingi oleh orang tua.
Sejenak kemudian datang ibu muda membawa belanjaan, makanan ikan koi yang baru dibelinya seraya mengajak segera beranjak pulang anak tersebut. Si anak merengek tidak bersedia pulang sebelum dibelikan ikan Nemo. Wajar saja anak kecil menangis, merengek dan menjejak njejakan kaki ke tanah karena itu adalah senjata agar keinginannya dipenuhi. Si ibu kehabisan akal untuk membujuk sang anak. Dengan kekuatan otot tangan si ibu, ditarik lengan sang anak dan selesailah edegan drama satu babak. Bersambung.
hanya tes
ff